Tugas Makalah Personality Development HANDLING FEAR

Tugas Makalah

Personality Development

HANDLING FEAR

Disusun oleh :

Kelompok V

  1. Devin Hariyanti                      (11101229)
  2. Diyah Intan Wahyuningtyas   (11101230)
  3. Maulidia Wulan Anggraini     (11101285)
  4. M. Samsul Hadi                      (09102042)

Perguruan Tinggi Asia

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI

Kampus Pusat : Jl.Sukarno Hatta-Rembuksari 1 A, Malang Telp. 0341 478877

Kampus 2 : Jl. Borobudur  No. 21, Malang Telp. 0341 478494

2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan tugas makalah Personality Development dengan judul “Handling Fear” dengan baik. Makalah ini disusun dalam rangka memberikan gambaran dan penjelasan tentang handling fear atau penanganan ketakutan. Diharapkan makalah ini benar-benar mampu membantu para pembacanya yang masih belum paham mengenai beberapa hal dalam penanganan rasa takut atau handling fear.

Penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang membantu tersusunnya makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan sumbangan wawasan yang bermanfaat bagi para pembacanya.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari para pembaca sangat penulis harapkan demi perbaikan penyusunan di masa-masa yang akan datang.

Malang, 08 November 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Cover                                                                                                                    

Kata Pengantar…………………………………………………………………1

Daftar Isi………………………………………………………………………..2

BAB I        : PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang…………………………………………………              3
  2. Rumusan Masalah…………………………………………….. 4

BAB II       :PEMBAHASAN

  1. Mengatasi Takut Karena Konflik, Kehilangan Identitas, Kurangnya Keamanan…………………………………………                    5
  2. Menggunakan Rasa Takut Sebagai Alat Motivasi……………. 8
  3. Jenis Ketakutan Dan Cara Menanganinya……………………. 8
  4. Mengelola  Emosional Takut Melalui Kepercayaan Diri……..   9
  5. Akar Penyebab Takut Dan Artinya Bagi Kemajuan Diri……..  10
  6. Membangun Ketahanan Diri Untuk Mengatasi Rasa Takut….. 11

BAB III     :PENUTUP

  1. Kesimpulan……………………………………………………. 12
  2. Saran…………………………………………………………… 12

Daftar Pustaka………………………………………………………………….               13

BAB I

PENDAHULUAN

 1. Latar Belakang

Setiap individu memiliki  apa yang disebut dengan ketakutan. Mulai dari ketakutan yang biasa dan ketakutan yang luar biasa, ketakutan akan hal kecil maupun ketakutan akan hal dianggapnya besar. Jadi pastilah manusia pasti memiliki rasa takut, tidak mungkin tidak, hanya perwujudan dan kadar rasa takut itu berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, tidak semua orang memiliki rasa takut akan hal yang menyeramkan dan tidak semua orang pula memiliki keberanian akan hal yang secara umum sebenarnya tidak menakutkan.

Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman, sedangkan takut sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.

Ketakutan harus dibedakan dari kondisi emosi lainnya, yaitu kegelisahan, yang umumnya terjadi tanpa adanya ancaman eksternal. Ketakutan juga terkait dengan suatu perilaku spesifik untuk melarikan diri dan menghindar, sedangkan kegelisahan adalah hasil dari persepsi ancaman yang tak dapat dikendalikan atau dihindarkan.Bahaya kekhawatiran adalah pandangan terhadap keadaan dan persepsi yang tidak ia sukai harus ia ikuti. Di lain pihak, sudah tidak ada kemampuan karena usia dan kelemahan kecuali dengan dukungan dan bantuan orang lain dan pihak lain. Rasa takut harus diatasi dengan menjalin dukungan dan hubungan, diplomasi dengan pihak pihak yang dipercaya dan dibutuhkan. Membangun sebuah struktur kemampuan dan manajemen antisipasi juga membangun sebuah struktur perisai.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebutlah penulis bermaksud menjelaskan dan menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan rasa takut dalam makalah berjudul “Handling Fear

2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana mengatasi rasa takut karena konflik, kehilangan identitas, dan kurangnya keamanan ?
  2. Bagaimana menggunakan rasa takut sebagai alat motivasi ?
  3. Apa sajakah jenis ketakutan dan cara menanganinya ?
  4. Bagaimana mengelola  emosional takut melalui kepercayaan diri ?
  5. Apa akar penyebab takut dan artinya bagi kemajuan diri ?
  6. Bagaimana membangun ketahanan diri untuk mengatasi rasa takut ?

BAB II

PEMBAHASAN

 1. Mengatasi Takut Karena Konflik, Kehilangan Identitas, KurangnyaKeamanan.

Ketakutan adalah suatu emosi yang tidak menyenangkan dan sering kuat yang disebabkan oleh antisipasi atau kesadaran bahaya. Ketakutan benar-benar alami dan membantu orang untuk mengenali dan merespon situasi berbahaya dan ancaman. Namun, rasa takut yang sehat atau ketakutan yang memiliki fungsi pelindung dapat berkembang menjadi rasa takut yang tidak sehat atau patologis, yang dapat menyebabkan perilaku berlebihan dan kekerasan.

Rasa takut pun bisa disebabkan karena berbagai macam konflik, baik konflik dalam keluarga, konflik batin, konflik sosial, dan konflik-konflik dari segi lainnya. Adapun cara secara umum yang dapat mengatasi suatu konflik adalah :

a.      Berdoa.

Berdoa dapat membuat pikiran kita menjadi tenang dan kualitas perilaku kita menjadi lebih baik dari sebelumnya karena adanya keyakinan untuk menghadapi seluruh hal dan masalah yang dihadapi sesuai keyakinan yang dianut, secara medis hal tersebut tidaklah mengherankan karena otak menerima rangsangan kimia dari neuron melalui Neurotransmiter berupa sinyal positif dari lantunan doa maka oleh otak kita terbentuk pula emosi positif yang dapat membuat fungsi homeostatis tubuh menjadi stabil dan terkendali seperti degup jantung yang teratur, tekanan darah yang stabil, dan lain sebagainya. Oleh karena itu berdoa sangat penting sebagai cara pertama tindakan preventif untuk menghadapi rasa takut.

 b.      Latihan pernafasan secara teratur

Fungsinya hampir dengan berdoa, tapi ini dilakukan melaluilatihan teknik pernafasan yang teratur dan rutin dilakukan sehingga membuat fungsi homeostatis tubuh menjadi stabil dan terkendali.

c.       Ciptakan kondisi psikologi yang meyakinkan

Fungsinya sama seperti dua cara sebelumnya yaitu untuk menciptakan homeostatis tubuh yang stabil dan terkendali, tapi ini dilakukan denganmengandalkan fungsi otak yaitufungsi emosi dan fungsi pembelajaran motorik sehingga menghasilkan pemikiran positif dan menyenangkan bagi kondisi psikologi kognitif seseorang sehingga melalui Neuotransmiter yang mengirim sinyal positif menuju otak dapat membuat fungsi homeostatis tubuhterkendali, hal ini dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut:

Jika kita takut terhadapsosok setan yang tidak kasat mata, maka di dalam bayangan kita (alam pikiran sadar kita) kita dapat menggambarkan sosok setan tersebut sebagai sosok yang lucu, ada kumis kucingnya, ada pita di atas kepalanya dan mulutnya tersenyum seperti tokoh kartun yang kita kenal selama ini. Niscaya jika kita membayangkan sosok setan seperti itu maka kita tidak akan takut, yang ada malah rasa lucu dan terhibur. Sugesti lucu dan terhibur inilah yang membuat degup jantung dan tekanan darah kita menjadi stabil (fungsi homeostatis tubuh) karena rangsangan positif oleh Neurotransmiter dibawa menuju otak yangberpengaruh terhadap jantung.

d.      Sugesti positif kepada diri sendiri

Sugestikan anggapan sebagai berikut: “Bahwa tidak ada hal yang perlu ditakuti karena sekalipun hal yang ditakuti tersebut terjadi maka itu tidak membuat dunia kiamat dan tidak membuat diri kita terancam keselamatannya”.Pikirkan hal tersebutberulang-ulang dan jadikan pegangan hidup kemanapun kita berada, dampaknya adalahotak dapat merespon suatu sinyal positif yang berpengaruh terhadap psikologi kognitif diri kita serta terkendalinya fungsi jantung dan tekanan darah.

 e.       Pastikan dalam keadaan sehat dan prima

Yaitu ketika rasa takut mulai menghantui kita, oleh karena itu pastikan fisik kita baik-baik saja melalui Medical Check-up yang rutin sebelum kita memulai suatu aktifitas atau kegiatan yang cukup berpotensi menghadirkan rasa khawatir atau ketakutan berlebihan sehingga dapat mengancam keselamatan jiwa secara tidak langsung(menilik pada kasus penyakit jantung yang diidap oleh Gerard Houllier seorang pelatih bola dari klub Aston Villa di Liga Inggris).

 f.        Periksakan diri kita kepada Psikiater atau Dokter Jiwa setempat.

Apabila mengalami atau merasakan suatu kegundahan atau ketakutan hebat yang tidak beralasan atau tidak tampak secara kasat mata atas satuatau lebih objek disekitar kita sehingga hal tersebut menggangu aktifitas keseharian kita dalam menjalin hubungan sosialisasi antara diri kita dengan sesama. Terlebih lagiapabila rasa gundah atau ketakutan tersebut ternyata lebih dominan dan sering muncul mendadak (secara tiba-tiba dan lebih bersifat reaktif tanpa melihat situasi dan kondisi orang lain di sekitar kita).

Rasa takut pun bisa disebabkan ketika orang merasa bahwa ia kehilangan jati dirinya, dimana dikatakan bahwa dia tidak mengerti bagaimana cara mengenali diri sendiri. Biasanya hal tersebut dikarenakan faktor lingkungan atau sekitarnya. baik dia tidak mendapatkan pengakuan dari lingkungannya atau faktor sosial yang salah. Mulai dari faktor keluarga atau pun masyarakat. Untuk itulah orang-orang seperti ini perlu bimbingan atau dukungan moral serta memerlukan komunikasi yang baik dari dirinya dan orang lain.

Berbeda halnya dengan orang yang takut dikarenakan kurangnya rasa aman. Ketakutan ini terjadi ketika dia merasa tidak nyaman pada suatu tempat atau di mana ia berada atau bahkan tidak percaya kepada orang yang berada di sekitarnya. Terlebih orang-orang barus, sehingga perasaannya tidak merasa damai atau tenang ketika di tempat yang menurutnya kurang aman. Bisa juga rasa takut karena kurangnya rasa aman terjadi karena taumatik akan hal yang pernah terjadi padanya di suatu tempat. Rasa takut seperti demikian ini dapat dibantu dengan selalu mendampinginya dan menanamkan keberanian secara perlahan-lahan.

2.      Menggunakan Rasa Takut Sebagai Alat Motivasi

Pada dasarnya rasa takut dapat di atasi jika kita mampu mengelolanya dengan baik, sebagai contohnya para pemimpin politik. Salah satu cara pemimpin dapat mendapatkan dukungan ini adalah dengan mengatasi, bermain off, atau bahkan menyebabkan ketakutan nya atau orang-orangnya. Akibatnya, para pemimpin dapat memainkan peran penting dalam penciptaan dan/atau menenangkan ketakutan, terutama dalam konflik etnis atau antar kelompok adalah penting bahwa para pemimpin menyadari konsekuensi dari menggunakan rasa takut sebagai alat motivasi. Karena rasa takut adalah suatu emosi yang kuat, pemimpin harus sangat berhati-hati bermain di kekhawatiran orang.

Rasa takut dapat berhubungan dengan motivasi. Terkadang karena ketakutannya akan suatu hal, orang akan berusaha agar ketakutannya tersebut tidak menjadi kenyataan yaitu dengan cara menemukan cara mengatasi, mempelajari, dan berusaha untuk itu. Sebagai contoh : seorang siswa yang takut mendapat nilai D, maka ia akan berusaha belajar sehingga nilai yang didapatnya menjadi lebih baik. Ketika ketakutan itu bisa diapresiasikan dengan cara yang benar, maka akan menciptakan suatu hal yang positif.

3.      Jenis Ketakutan Dan Cara Menanganinya.

Dr. Ivan Kos menjabarkan tahapan yang berbeda dari rasa takut.

Dr. Ivan Kos menjabarkan tahapan yang berbeda dari rasa takut.

1. Ketakutan yang nyata, atau takut didasarkan pada situasi nyata. Jika seseorang atau sesuatu menyakiti Anda, Anda memiliki alasan untuk takut di masa depan.

 2. Ketakutan yang realistis, atau mungkin ini adalah ketakutan yang berbasis di realitas yang menyebabkan seseorang untuk menghindari ancaman di tempat pertama (yaitu menunggu untuk menyeberangi jalan yang sibuk untuk alasan keamanan).

3. Berlebihan atau emosional takut berhubungan dengan individu. “mengingat kekhawatiran masa lalu atau kejadian dan menyuntikkan mereka ke dalam situasi saat ini.” Jenis ketakutan sangat relevan dengan konflik. Ketakutan emosional mempengaruhi cara orang menangani situasi konfliktual.

 Bahaya kekhawatiran adalah pandangan terhadap keadaan dan persepsi yang tidak ia sukai harus ia ikuti. Di lain pihak, sudah tidak ada kemampuan karena usia dan kelemahan kecuali dengan dukungan dan bantuan orang lain dan pihak lain. Rasa takut harus diatasi dengan menjalin dukungan dan hubungan, diplomasi dengan pihak pihak yang dipercaya dan dibutuhkan. Membangun sebuah struktur kemampuan dan manajemen antisipasi juga membangun sebuah struktur perisai.

Adapun cara untuk  menangani rasa takut antara lain yaitu:

  • Menyadari hal itu.
  • Mengidentifikasi cara-cara Anda mengekspresikan rasa takut.
  • Mengakui situasi yang memicu rasa takut, dan menggunakan teknik perilaku untuk mengurangi rasa takut dan stres.

4.      Mengelola Emosional Takut Melalui Kepercayaan Diri.

Banyak orang yang merasa rasa takut adalah bagian dari emosional yang ada pada dirinya. Untuk itulah mengatur emosional yang ada di dalam diri seseorang sangat diperlukan, dan salah satunya adalah melalui kepercayaan diri. Percaya diri merupakan salah satu cara menciptakan ketahanan diri. Sedangkan ketahanan diri sendiri merupakan cara lain untuk mengatasi rasa takut.

Dengan adanya pernyataan tersebut, maka bisa dikatakan bahwa kepercayaan diri berhubungan dengan cara pengatasan rasa takut. Lalu bagaimana cara kita bisa mengelola emosional takut kita dengan kepercayaan diri?. Maka jawabannya adalah dengan mulai mengenal diri kita sendiri, memulai dari sugesti yang baik bahwa kita bisa dan memiliki rasa yakin akan kemampuan diri.

5.      Akar Penyebab Takut Dan Artinya Bagi Kemajuan Diri.

Rasa takut yang di alami individu memang dipengaruhi beberapa hal antara lain konflik yang terjadi,kehilangan identitas dan kurangnya rasa aman. Yang pertama mengenai konflik Konflik sering didorong oleh kebutuhan yang tak terpenuhi dan ketakutan yang berhubungan dengan kebutuhan. Individu dan kelompok mengidentifikasi diri mereka dengan cara tertentu (berdasarkan budaya, bahasa, ras, agama, dll), dan ancaman kepada mereka identitas membangkitkan kekhawatiran yang sangat nyata, ketakutan kepunahan, kekhawatiran masa depan, ketakutan penindasan, dll.

Bagi banyak orang, dunia berubah dengan cepat dan hidup mereka sedang berubah sebagai hasilnya. Bagi sebagian orang religius, perubahan ini mengarah pada rasa takut bahwa orang-orang muda akan meninggalkan Gereja atau Masjid, bahwa media akan menjadi lebih penting dan berpengaruh dalam kehidupan anak-anak mereka, dan bahwa mereka kehilangan kendali atas masa depan mereka sendiri. Ini ancaman terhadap hasil identitas dalam ketakutan.

Demikian pula, dalam konflik etnis, sejarah (penghinaan, penindasan, menjadi korban, perasaan rendah, penganiayaan kelompok seseorang, dan berbagai jenis lain dari diskriminasi) menyebabkan ketakutan kesalahan serupa di masa mendatang. Ini bentuk kenangan sejarah bagaimana kelompok dan orang melihat satu sama lain. Akibatnya, kekerasan historis antara Israel dan Palestina, Hutu dan Tutsi, dan Protestan  dan Katolik di Irlandia Utara mempengaruhi bagaimana kelompok melihat satu sama lain dan sering menyebabkan takut satu sama lain. Grup takut sering diterjemahkan ke dalam ketakutan individu, seperti kepunahan kelompok sering dikaitkan dengan kepunahan individu.

Contoh-contoh ini menggambarkan peran penting bahwa sejarah memainkan dalam pengembangan ketakutan. Kenangan ketidakadilan masa lalu menyebabkan individu untuk mengantisipasi masa depan penindasan atau kekerasan dengan rasa cemas dan ketakutan. Dengan kata lain, yang menenangkan ketakutan satu kelompok tidak berarti bahwa kelompok lain memiliki lebih banyak alasan untuk takut. Biasanya cukup sebaliknya adalah benar. Kelompok yang lebih aman merasa, semakin sedikit mereka merasa perlu untuk menyerang kelompok lain. Dengan demikian keamanan benar-benar dapat menjadi sum game menang-menang atau positif, sisi yang lebih yang dimiliki seseorang, semakin sisi lain memiliki terlalu. Hal ini berlaku dari pengganggu di tempat bermain, yang biasanya anak yang tidak aman, dengan pengganggu dalam sistem internasional.

6.      Membangun Ketahanan Diri Untuk Mengatasi Rasa Takut.

Untuk mengatasi rasa takut ada baiknya dengan membangun ketahanan diri. Ketahanan diri yang dimaksud adalah mencoba bertahan dan berusaha melawan rasa takut yang ada. Dengan ketahanan diri yang kuat akan membantu kita untuk mengatasi rasa takut, sehingga hal ini juga merupakan hal penting untuk dipertahankan, ditumbuhkan, atau bahkan dilatih. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk dapat menciptakan ketahanan diri, yaitu :

  • Berani mencoba hal baru yang bersifat positif
  • Belajar menyukai dan mencoba tantangan
  • Percaya diri
  • Selalu berpikir diri mampu dan bisa
  • Tidak mudah menyerah

BAB IV

PENUTUP

 1.      Kesimpulan

Ketakutan harus dibedakan dari kondisi emosi lainnya, yaitu kegelisahan, yang umumnya terjadi tanpa adanya ancaman eksternal. Ketakutan juga terkait dengan suatu perilaku spesifik untuk melarikan diri dan menghindar, sedangkan kegelisahan adalah hasil dari persepsi ancaman yang tak dapat dikendalikan atau dihindarkan.

Ketakutan adalah suatu emosi yang tidak menyenangkan dan sering kuat yang disebabkan oleh antisipasi atau kesadaran bahaya. Ketakutan benar-benar alami dan membantu orang untuk mengenali dan merespon situasi berbahaya dan ancaman. Rasa takut harus diatasi dengan menjalin dukungan dan hubungan, diplomasi dengan pihak pihak yang dipercaya dan dibutuhkan. Membangun sebuah struktur kemampuan dan manajemen antisipasi juga membangun sebuah struktur perisai. Banyak sekali cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi, meminimalisir, bahkan menghilangkan rasa takut kepada hal-hal tertentu.

Bisa disimpulkan bahwa penyebab ketakutan ialah berasal dari sugesti pikiran kita yang berpikir hal hal negatif yang seharusnya kita tidak pikirkan dan hal itulah yang menyebabkan rasa takut pada seseorang.

2.      Saran

Semoga dari makalah ini, pembaca mendapat pengetahuan tentang apa itu handling fear dan bagaimana cara mengatasi atau meminimalisirnya. Penulis juga berharap dapat memahami nilai-nilai yang ada di dalamnya. Adapun saran yang dapat diberikan penulis kepada pembaca adalah janganlah takut mencoba apabila hal yang kita coba tersebut adalah hal yang dapat memberikan suatu yang positif dan berujung baik.

 DAFTAR PUSTAKA

 

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Ketakutan
  2. Paul Wahrhaftig, Belgrade Proyek Takut Memerangi [artikel on-line] (diakses pada 11 Maret 2003), tersedia dari http://www.conflictres.org/vol181/belgrade.html; Internet.
  3. James F. Mattil, Apa dalam Nama Tuhan: Fundamentalisme, Takut &Terorisme [artikel on-line] (diakses 7 Maret 2003); tersedia Internet.
  4. Steve Utterwulghe, Konflik berkepanjangan Sosial Rwanda: Mengingat Perspektif Subyektif dalam Konflik [artikel on-line] Strategi Resolusi (diakses 7 Maret 2003), tersedia dari http://www.trinstitute.org/ojpcr/2-3utter. htm; Internet.
  5. Herbert Kelman, “Sosial-Psikologis Dimensi Konflik Internasional,”dalam Perdamaian dalam Konflik Internasional: Metode dan Teknik, eds. I. William Zartman dan J. Lewis Rasmussen (Washington, DC: United States Institute of Peace Press, 1997), 197.
  6. Anthony Oberschall, Manipulasi etnis: dari kerjasama etnis untuk kekerasan dan perang di Yugoslavia [artikel on-line] (diakses 13 Maret 2003), tersedia dari http://www.unc.edu/courses/2002fall/soci/ 326/039/manipulation-of-ethnicity.pdf; Internet.

Download Power Point Handling Fair:   —> Hadling Fair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s